Jika kembali kuulangi pikirku, kita hampir punya banyak kesamaan ya?
Dia patah hati, akupun begitu, dia update status di FB tentang "ikhlas", aku juga!, dia punya maag, akupun sama, saat maagnya sedang kambuh, aku juga kambuh, dia pernah kerja di dunia catering aku juga iya, dan ternyata letak toko cateringnya saling membelakangi, sama-sama perusahaan catering yang bersaing.
Dan ternyata lagi, dia juga langganan ke bengkel sepupuku yang sekaligus disana juga lokasi rumah nenek yang biasa ku kunjungi dua tiga minggu sekali, dan lagi sepupuku juga kenal betul sama dia?! dan juga sebelumnya pembicaraan yang secara kebetulan dia juga kenal sepupuku, dia juga punya teman ibunya yang dekat dengan lokasi rumah nenekku?
Ini kebetulan sekali bukan? atau memang sudah takdirnya, sudah rencana Tuhan?
Aku kesal, kakak kelas yang aku sukai, dia ternyata membawa wanitanya sambil menghadap manajerku juga yang masih satu unit di kerjaan, firasatku wanita itu akan ikut bergabung yang juga melibatkan pekerjaanku. Ahhh... pikiranku mondar mandir, kesal, kecewa, aku tak pernah berpikir sebelumnya sampai sejauh ini. Cukup tahu aku dan dia tidak bisa saling memiliki walau ternyata ada perasaan yang sama, namun tidak lucu kan jika aku harus melihat mereka berdua barengan???!!
Ahh.. tidak, sudah lebih dari sebulan ini aku juga berusaha menutup mata dan telinga, dan juga menghapus isi hati yang ada disini nih. Tapi saat wanita itu manampakkan, seolah kembali lagi menyakitkan :( lebih baik tidak sama sekali!
Ahhh.... tidak, bukan ini yang akan ku ketik, langit hari itu biru cerah, mentari juga tersenyum lebar, hari itu seolah mengajakku untuk having fun! siap, aku beranjak keluar.
Sampai di taman kota, aku duduk dibawah pohon besar yang rindang, kurasakan angin semilir, ahh.. suasananya seperti dipantai pikirku.
Ada seseorang yang menyapaku saat aku tertunduk sambil memainkan handphone, aku menoleh, haha si kebetulan.
Seolah dia menghibur dan menemani aku yang lagi dropp, kita berbincang agak lama sambil jajan.
Aku melihat anak-anak yang sangat ceria bermain bubble, dan meniupkan gelembungnya ke udara, sesekali angin kencang yang membuat gelembung-gelembung itu berterbangan, aku tersenyum, melihat anak-anak itu tertawa bebas bermain bubble, berlarian, dan wajahnya seperti mentari.
"Aku mau itu..!" ujarku. dia bengong, lalu menepuk jidat sambil tertawa aneh. Aku hanya cengar-cengir seperti anak kecil kegirangan.
"iya, aku mau beli itu" ujarku lagi meyakinkan.
"itu dari mana? belinya darimana?" tanyanya.
"itu ada disana" jawabku sambil menunjuk ke arah tukang penjual bubble.
"mau beli sekarang?" nadanya kayak mau nganter beliin.
"ntar aja deh" aku menunggu situasi agak aman karena terlalu banyak orang, jujur sih aku juga malu, hihiii. Tapi saat aku merasa kacau, aku malah bisa jadi malu-maluin, kekanakkan, gak peduli sama orang sekitar, mau nertawain kek, mau ngeliatin kek, yang penting aku bisa berekspresi sebebas-bebasnya.
"Tunggu disini ya" ujarku sambil ngeloyor.
"kemana?"
"kesana"
Beberapa saat kemudian aku kembali, cengar-cengir sambil membawa bubble dengan peniupnya, dari kejauhan ekspresinya geli.
Hupp, anginnya tidak terlalu kencang namun aku mencoba menggelembungkannya.
"coba agak kenceng diayunnya" ujarnya.
Haha, malah belepotan, ini pertama kalinya lagi main bubble.
"naahhhh... itu dia kan bagus, anginnya lagi kenceng" ujarnya, bubble nya meggelembung sangat banyak dalam satu celupan. Eh aku makin nyengir aja, seneng yaaa dapet mainan, xixixixi :P
Dia memungut gagang peniup yang ada di sebelahnya, oh.. mungkin bekas anak kecil tadi.
"niihh lihat yang ini lebih gede" ujarnya sambil ikut menyelupkan gagang peniupnya ke wadah cairan sabun. Hahaha... jadi sama-sama anteng.
"waahh... ternyata seneng juga ya main gelembungan, kok jadi anteng juga, hahaha...."
Dia tertawa meski malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar